Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

CONTOH ANALISIS SKEMA AKTAN GRAIMAS

 SKEMA AKTAN DAN SKEMA FUNGSIONAL

CERPEN SEBUAH RUMAH BERDINDING BATU DI KALI PASIR

 

 

1. Satuan Cerita Cerpen “Sebuah Rumah Berdinding Batu di Kali Pasir”

Cerita dimulai (alur cerita maju)

1. Kolonel Purnawirawan Omar Sadikin memasuki ruang sidang.

2. Panitera berbicara melalui telepon genggam dengan menutup mulutnya.

3. Omar memperhatikan semua yang dilakukan ibu hakim.

4. Pertanyaan ibu hakim membuat Omar merasa mukanya menjadi panas.

5. Majeles Hakim membacakan putusan penyerobotan sebuah rumah.

6. Omar membayangkan rumah di Kali Pasir. (Alur sorot balik)

6.1 Ketika rumah itu dibeli awal 1970-an, Kalipasir belum seperti sekarang.

6.2 Sebelum membeli rumah di Kalipasir, Omar tinggal di jalan Petogogan,

6.3  Ayahnya meninggal dan mewariskan sawah untuk anak-anaknya. Uang penjualan sawah untuk membeli rumah.

6.4 Rumah yang dibeli untuk Rahma kata Omar kepada istrinya.

6.5 Rahma adalah anak satu-satunya yang perkembangan kecerdasaanya terganggu.

6.6 Omar menjadi Mayor, Mayor menjadi Letnan Kolonnel dan Omar dipindah ke Medan menjabat Komandan Teritorial.

6.7 Anwar membujuk Omar agar ia menempati rumah Omar. Usahanya sedang seret.

6.8 Omar berpindah tugas dari Medan, ke Jayapura dan terakhir di Bandung sebagai kepala penerangan di Kodam Siliwangi.

6.9 Omar dipensiunkan karena dianggap terlalu terbuka bila bicara dengan mahasiswa.

6.10 Seorang temannya yang sudah “jadi” memberinya pekerjaan ssebagai pengawas intern di perusahaannya. Ia tetap menghuni rumah dinas sampai perusahannya goyah.

6.11 Fatma, istrinya meninggal karena kanker getah bening. Makin kuat alasan Omar pulang ke Jakarta bersama Rahma.

6.12 Omar pulang ke Jakarta meminta rumahnya kembali dari Anwar.

6.13 Anwar selalu menghindar bila hendak ditemui Omar.

6.14 Teman-teman Omar yang bersimpati mengerahkan anak buahnya untuk mengambil alih rumahnya.

6.15 Anwar mengadukan Omar telah menyerobot rumahnya ke pengadilan.

7. Pikiran Omar kalut atas putusan hakim yang telah memenangkan Anwar atas dirinya

8. Omar melihat senyum kemenangan Anwar dan kesedihan  Rahma yang tertunduk berlinang air mata.

9. Rumah di Kalipasir telah melayang.

10. Impian untuk mewariskan rumah untuk Rahma kandas.

11. Di mana Rahma akan tinggal melewati hari-hari tuanya yang sepi dan sendiri.

12. Omar mengambil pistol di tas yang disandarkan di kursi.

13. Omar menembak hakim ketua dan dua hakim. Ketiganya terpelanting dan roboh.

14. Ruang sidang menjadi gaduh.

15. Omar berlari keluar gedung pengadilan dan sebuah bus kota menabrak dan menggilas tubuhnya.

 

Cerpen Sebuah Rumah Berdinding Batu di Kali pasir  terdiri dari 15 sekuen pada saat penceritaan dan ada 15 sekuen sorot balik (6.1 -6.15). Apabila diperhatikan jumlah sekuen pada sorot balik sama dengan jumlah sekuen yang menampilkan peristiwa penceritaan (1-20). Ini berarti ada keseimbangan antara peristiwa yang ada pada sorot balik dengan peristiwa-peristiwa yang sejalan dengan penceritaan.

 

2. Fungsi-fungsi Utama Cerita

I. Omar dipindah ke Medan menjabat Komandan Teritorial. (6.6)

II. Anwar membujuk Omar agar ia menempati rumah Omar. Usahanya sedang seret. (6.7)

III. Omar berpindah tugas dari Medan, ke Jayapura dan terakhir di Bandung sebagai kepala penerangan di Kodam Siliwangi. (6.8)

IV. Omar dipensiunkan karena dianggap terlalu terbuka bila bicara dengan mahasiswa (6.9)

V. Setelah pensiun, Omar tetap tinggal di Bandung. (6.10)

VI. Omar berniat pulang ke Jakarta Fatma, istrinya meninggal karena kanker getah bening (6.11)

VII. Omar meminta rumahnya kepada Anwar (6.12)

VIII. Anwar selalu menghindar. (6.13)

IX. Teman-teman Omar mengambil alih rumah Omar. (6.14)

X. Anwar mengadukan Omar  ke pengadilan atas penyerobotan rumah. (6.15)

XI. Omar Sadikin memasuki ruang sidang (1)

XII. Pertanyaan ibu hakim membuat Omar merasa mukanya menjadi panas.(4)

XIII. Putusan hakim (5)

XIV. Omar melihat senyum kemenangan Anwar dan kesedihan  Rahma yang tertunduk berlinang air mata (8)

XV. Rumah di Kalipasir telah melayang. (9)

XVI. Impian untuk mewariskan rumah untuk Rahma kandas (10)

XVII. Omar mengambil pistol di tas yang disandarkan di kursi. (12)

XVIII. Omar menembak hakim ketua dan dua hakim. (13)

XIX. Omar berlari keluar gedung pengadilan dan sebuah bus kota menabraknya.

 

Skema fungsi

I        III        IV VVIIVII

 

II                  VIII                

                                   X

 

IXXIII XI                                 

 

XIIXIIIXIVXVXVI

         XIX XVIII XVII

 

3. Skema Aktan

 

  (Rumah)

Pengirim                              Objek                         Penerima

(Omar dan Anwar) (Anwar dan Rahma)

 

Penolong                             Subjek                         Penentang

(Majelis hakim) 1. Anwar    1. Anwar

2. Hakim    2. Istri Anwar

3. Tentara    3. Jaksa Penuntut Umum

 

a. Pengirim : 1. Kolonel Purnawiran Omar

2. Anwar

b. Objek : Rumah berdinding batu di Kalipasir yang diperkarakan oleh Omar dan Anwar

c. Subjek : 1. Anwar adalah orang yang menempati rumah (objek) milik Omar (pengirim)

2. Hakim adalah pemutus perkara yang memenangkan subjek atas pengirim.

3. Teman-teman Omar yang bersimpati adalah mereka yang membantu mengambil alih rumah (objek)

d. Penentang : 1. Anwar dia selalu menghindar apabila ingin ditemui Omar meminta rumahnya.

2. Istri Anwar yang selalu mengatakan rumah itu milik Anwar.

3. Jaksa Penuntut Umum yang memenangkan perkara sengketa kepemilikan rumah sah Omar kepad Anwar.

e. Penolong : 1. Majelis hakim mereka yang memutuskan bahwa rumah (objek) menjadi milik Anwar (subjek).

f. Penerima : 1. Anwar adalah orang yang dimenangkan oleh hakim mendapatkan rumah (objek).

2. Rahma adalah aktan yang akan mewarisi rumah (objek).

 

4. Skema Fungsional

1. Situasi Awal

Kolonel Purnawirawan Omar diajukan ke pengadilan atas tuduhan penyerobotan rumah di Kalipasir dari Anwar. Rumah miliknya yang sudah ditempati Anwar, adiknya saat Omar bertugas bertahun-tahun mulai dari Medan sampai Bandung. Saat meminta kembali rumahnya Anwar selalu sulit ditemui. Sehingga teman-teman Omar yang bersimpati berusaha mengambil alih rumah. Akibatnya Omar dituduh telah menyerobot rumah miliknya.

2. Transformasi

a. Cobaan Saringan

Omar berusaha mendapatkan rumah (objek) di pengadilan atas tuduhan telah mengambil alih rumahnya (objek) dari Anwar, adiknya yang telah menempati rumahnya selama Omar berdinas di Medan sampai Bandung.

b. Cobaan Utama

Di pengadilan Omar kalah. Ia dikalahkan oleh persekongkolan Anwar dengan panitera pengadilan. Ia harus menerima kenyataan bahwa rumah (objek) di Kalipasir milik Anwar. Usaha mendapatkan rumah (objek) untuk Rahma anaknya pupus. Hakim ketua telah memutuskan pro justitia, demi keadilan tindakan yang dilakukan Omar dinyatakan salah.

c. Cobaan yang Membawa Kegemilngan/Kejatuhan

Hakim ketua telah memutuskan bahwa Omar tidak berhak atas rumah (objek) di Kali Pasir. Anwar tersenyum penuh kemenangan. Omar melihat kesedihan Rahma. Di mana dia akan tinggal nanti.

 

3. Situasi Akhir

Mendengar keputusan hakim ketua yang memenangkan Anwar atas perkaranya. Omar menjadi gelap mata. Ia tidak akan dapat mewariskan rumah (objek) kepada Rahma, anak satu-satunya yang tidak punya siapa-siapa di masa tuanya. Hilang sudah impiannya. Ia mengambil pistol dan menembak hakim ketua dan dua hakim yang lain. Omar berlari dan terlindas bus kota yang menabraknya.

 

5. Tokoh Omar Sadikin

Omar adalah tokoh yang rela membantu adiknya dalam situasi kesulitan. Ia mengizinkan rumahnya ditempati Anwar saat bertugas di Medan. Namun, ia ceroboh tidak memikirkan dampak di waktu lain. Seharusnya Omar membuat surat perjanjian apabila sewaktu-waktu rumah diambil lagi Anwar harus meninggalkan rumahnya. Omar tokoh yang menyayangi anaknya. Ia melakukan penembakan karena kecewa impian mewariskan rumah kepada Rahma tak kesampaian. Omar juga gegabah, ia tidak boleh menembak hakim tapi mengajukan banding sehingga kemungkinan mendapatkan rumahnya masih ada. 

Cerpen Seno Gumira Ajidarma

 

Cerpen Seno Gumira Ajidarma 

PERCAKAPAN di RUANG TUNGGU

Saya sakit gigi. Dunia berdentam-dentam. Maka terpuruklah saya di kursi plastik ruang tunggu klinik gigi ini. Di antara dentam-dentam sialan saya dengar percakapan itu.

“Eeeh, Jeng Sakince, apa kabar? Sakit gigi ya?”

“Aaahh enggak, mau reparasi gigi palsu, enggak enak dipakainya, mengsla-mengsle; ke sana-sini. Gimana kabarnya Bu Lakidri? Eh, Ibu yang rumahnya sederetan itu ke mana sih? Dia kan juga bikin gigi di sini, belum jadi giginya kok terus ngilang…”

“Ibu Plekisit? Lho kan sudah meninggal! Masa’ nggak denger?”

“Haaa? Meninggal? Innalillahi! Sakit apa? Pantes nggak pernah ketemu waktu jalan pagi.”

“Belum denger ya? Kejadiannya kan begini…”

Hmm. Masing-masing bertanya apa kabar dan masing-masing tidak perlu jawaban. Ini memang klinik di dalam kompleks perumahan. Dokternya warga kompleks. Pasien-pasiennya juga warga kompleks. Bagi manusia lanjut usia yang sudah tidak bekerja, dan hampir setiap hari bisa ketemu, kejadian apa pula dalam hidup mereka yang kurang menarik itu perlu dikabarkan?

Namun inilah kejadian yang kemudian kudengar ketika terpuruk di kursi plastik dengan kepala berdentam-dentam.

“Jadi Ibu Plekisit itu kalau ketemu ceritanya kan kadang-kadang tidak bisa dipercaya…”

“Ah, tidak bisa dipercaya bagaimana?”

“Ya sulitlah dipercaya gitu lho Jeng, masa’ dia bilang kepalanya suka dipukuli sama anak perempuannya…”

“Hah? Masya Allah! Kepalanya dipukuli? Pakai apa?”

“Pakai alat masak katanya, sotil kali ya?”

“Bisa sotil, bisa ulekan.”

“Huss! Sekalian aja alu besi! Bisa mati dong kalau ulekan…”

“Lha, mati atau nggak Ibu itu kepalanya dipukuli? Katanya Ibu itu meninggal tadi! Apa penyebabnya? Jangan bilang memang sudah tiba waktunya ya!”

“Nah, itu dia soalnya Jeng, mula-mula ceritanya begini…”

Jadi menurut Ibu Lakidri, tetangga sebelahnya mengendus bau yang aneh dari rumah sebelah. Itu setelah Ibu Plekisit tidak pernah kelihatan, mungkin sampai sebulan atau dua bulan. Tak jelas persisnya.

“Bau? Bau apa? Saya nggak bau apa-apa!”

Ini jawaban anak perempuan yang katanya suka memukuli kepala ibunya dengan alat masak itu, entah sotil entah ulekan.

“Ada kok di atas!”

Kalau ini jawaban setelah ditanya ke mana saja ibunya kok tidak pernah kelihatan. Di rumahnya sendiri, peninggalan almarhum Bapak Plekisit, suaminya yang menjadi pegawai perusahaan Badan Usaha Milik Negara, Ibu Plekisit tinggal di lantai atas. Lantai bawah ditempati keluarga anak perempuannya itu, anak pertama yang kawin dengan seorang Aparatur Negeri Sipil. Tidak jelas persisnya, mereka sudah punya anak atau belum, yang jelas suaminya disebut sering bertugas ke luar kota.

“Tapi mau seberapa lama sih perginya? Ya kan? Semakin lama bau itu kan semakin tajam. Masa… nggak ngebauin apa-apa. Iya kan?”

“Iya ya! Aneh!” Ibu Sakince yang gigi palsunya mengsla-mengsle; itu menimpali.

“Nhaaa, untungnya dateng anak kedua, perempuan, yang belum kawin. Tinggalnya jauh, di Cikarang, jadi jarang nengok juga, tetapi selalu kontak lewat we-a. Makanya dia dateng, takut ibunya kenapa-kenapa, karena sudah terlalu lama pesan di we-a enggak dibalas, sedangkan mengontak kakak dan iparnya pun sama saja. Telepon rumah tidak bernada sambung, kontak ke telepon genggam tidak pernah diangkat, pesan we-a meskipun tandanya diterima tidaklah dibaca.

“Waktu dia datang, juga nggak ada orang sebetulnya,” lanjut Ibu Lakidri, “untungnya punya kunci pagar maupun pintu masuk rumah. Pas dia baru buka-buka kunci pagar, ibu tetangga yang mengendus bau aneh tahu-tahu muncul dan langsung ngomongin soal bau itu.”

“Terus?”

“Ya mereka berdua terus masuk.”

“Terus?”

“Ya terus lihat.”

“Lihat apa?”

“Ya ibunya itulah….”

“Ibu Plekisit?”

“Iyalah.”

“Jadi dari situ bau aneh itu?”

“Bukan aneh lagi.”

“Apa dong.”

“Namanya juga udah meninggal lama, apa saya harus bilang baunya seperti apa.”

Kepala saya masih berdentam-dentam, tetapi sekarang bertambah dengan suatu gerakan dari dalam perut. Namun saya masih bisa menahannya. Ibu Sakince langsung berdiri dan bergegas ke toilet sambil memegangi perutnya. Sambil melihatnya Ibu Lakidri menghela napas. Toh begitu keluar toilet Ibu Sakince masih bertanya lagi.

“Artinya memang mati karena kepalanya selalu dipukuli?”

“Itulah …”

“Itulah bagaimana?”

“Saya pikir mesti lapor polisi, tapi katanya keluarga tidak setuju.”

“Walah, memangnya setelah ketahuan Ibu Plekisit sudah lama meninggal terus bagaimana?”

“Saya bilang, kalau denger cerita Ibu Plekisit kepalanya selalu dipukuli Aning pakai alat masak, entah sotil entah ulekan itu, ya harus lapor polisi. Apalagi ….”

Ibu Lakidri berhenti. Ibu Sakince mendesak.

“Apalagi apa?”

“Selain bercerita kepalanya sering dipukuli, Ibu Plekisit juga bercerita kalau Aning, anak perempuannya yang serumah itu, selalu mendesak-desak agar warisannya segera dibagi ….”

“Hah? Ibunya masih hidup sudah minta-minta warisan? Apa dia banyak utang?”

“Bukan begitu, Ibu Plekisit sendiri pernah bilang suaminya Aning itu di Yogya punya pacar.”

“Oooh, kalau tugas keluar kota pasti mampir ke Yogya, terus sekarang lama-lama mau kawin, terus Aning takut masa depannya tidak jelas, begitu?”

“Wah ya belum sampai ke situ ceritanya, yang jelas kemauan Nurul, anak keduanya tadi, didukung Pak RT. Kata Pak RT kalau keluarga tidak merasa perlu lapor polisi ya tidak usah lapor polisi.”

“Aning sendiri bagaimana?”

“Waktu Aning pulang, Nurul langsung mendamprat. Mereka bertengkar di depan jenazah ibu mereka.”

“Hah? Bertengkar di depan jenazah?  Seperti apa?”

Rupa-rupanya Ibu Lakidri memiliki bakat terpendam untuk menjadi pemain monolog. Ibu Lakidri bercerita sambil menirukan suara Nurul dan Aning. Meski kepala saya berdentam-dentam, tetap terdengar juga monolog Ibu Lakidri.

“Kamu keterlaluan, masa… Ibu meninggal sampai lama sekali kamu diam saja,” kata Nurul.

“Mana aku tahu Ibu meninggal? Kami kan memang tidak ngomong …”

“Itu bukan alasan, meskipun tetap keterlaluan, sadar enggak sih kamu dan suamimu itu numpang? Masa… Ibu tidak turun dari atas sampai berhari-hari kamu tidak peduli? Dan bau seperti ini? Kok bisa sih tidak menengok ke atas sama sekali?”

“Bau apa? Setiap hari juga seperti ini baunya! Tidak ada yang aneh …”

Sampai di sini Ibu Sakince menyela.

“Nurul sama sekali tidak tahu kalau Aning suka memukuli kepala ibunya, entah pakai sotil atau ulekan itu? Tidak tahu kalau Aning suka mendesak-desak ibunya supaya warisan segera dibagi?”

Ibu Lakidri menggeleng.

“Apa hanya dua itu anaknya? Sampai perlu menunggu Nurul datang dari Cikarang, apakah anak-anak lainnya tidak pernah kontak?”

Ibu Lakidri mengangkat bahu.

“Kata Ibu Plekisit, anaknya yang ketiga, laki-laki, sudah lama tidak pulang karena berlayar …”

“Oya? Ke mana?”

Ibu Lakidri mengangkat bahu lagi.

“… anak keempat, perempuan, kawin sama orang asing, ikut suaminya ke luar negeri.”

Ibu Sakince hanya ternganga.

“Anak kelima, laki-laki, suka menggelandang di kompleks, kalau istirahat di depan Nglabamart …”

“Ooohh yang itu? Yang gila? Yang selalu ngomong sendiri itu? Kok bisa begitu sih …”

Orang yang disebut gila itu saya juga tahu. Ia mengenakan tutup kepala plastik yang tinggi, busananya seperti rancangan Rei Kawakubo yang tidak pernah dicuci, duduk di pojok Nglabamart. Maksud saya tentu di luarnya, di lantai semen tempat parkir sepedamotor, bicara sendiri dengan nada rendah. Konon Bapak Plekisit dulu punya kedudukan. Bagaimana kalau dia tahu keadaan keluarganya sekarang?

Saya pernah memarkir sepedamotor di dekatnya ketika mau ke ATM yang ada di dalam. Waktu mengambilnya lagi saya sengaja berlama-lama, karena ingin mendengar kalimat-kalimatnya dengan tepat, siapa tahu sebanding dengan Tractatus Logico-Philosophicus. Namun yang saya dengar kok seperti mantra yang maknanya sengaja disembunyikan supaya kepalsuannya tidak terbongkar.

Pasien lain mengeraskan suara televisi, sehingga percakapan Ibu Sakince dan Ibu Lakidri tidak bisa saya dengar lagi. Agaknya pasien ini penasaran untuk mengikuti suatu berita kriminal yang pembunuhnya belum tertangkap. Memang belum tentu Ibu Plekisit meninggal karena dibunuh yang saya ingat justru kehidupannya. Entah kenapa kepala saya semakin keras berdentam-dentam.

BEBERAPA PENGERTIAN MENGENAI KALIMAT

Pengertian Kalimat

    Kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai perilakunya. Kata yang mempunyai bentuk serta perilaku yang sama, atau mirip, dimasukkan kedalam satukelompok, sedangkan kata lain yang bentuk dan perilakunya sama atau mirip dengan sesamanya, tetapi berbeda dengan kelompok yang pertama, dimasukkan kedalam kelompok yang lain. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaksisnya. Kategorisintaksis sering pula disebut kategori atau kelas kata.

    Dalam bahasa Indonesia kita memiliki empat kategori sintaksis utama:

1. verba atau kata kerja,

2. nomina atau kata benda,

3. adjektiva atau kata sifat,

4. adverbia atau kata keterangan.

Disamping itu, ada satukelompok lain yang dinamakan kata tugas yang terdiri atas beberapa subkelompok yang lebih kecil, misalnya preposisi atau kata depan, konjungsi atau kata sambung, danpartikel.

    Nomina, verba dan ajektiva sering dikembangkan dengan tambahan pembatas tertentu. Nomina, misalnya dapat dikembangkan dengan nomina lain, dengan kata lain, dengan ajektiva, atau dengan kategori yang lain (gedung = gedung sekolah, gedung bagus, gedung yang bagus itu). Verba dapat diperluas, antara lain, dengan adverbia seperti pelan-pelan (makan = makan pelan-pelan), dan ajektiva dapat diperluas dengan adverbia seperti sangat (manis = sangat manis). Pada tataran sintaksis, nomina dan perkembangannya disebut frasa nominal. Hal yang sama berlaku pada verba yang menjadi frasa verbal dan pada adjektiva pada frasa adjektival. Preposisi yang diikuti kata atau frasa lain menghasilkan frasa preposisional.

Di postingan berikutnya akan dikupas FUNGSI SINTAKSIS

TEKS EDITORIAL

 Mengidentifikasi Informasi Dalam Teks Editorial

Teks Editorial (Tajuk Rencana) merupakan pernyataan mengenai fakta dan opini secara singkat, logis, menarik ditinjau dari segi penulisan, dan bertujuan memengaruhi pendapat atau memberikan interprestasi terhadap suatu berita yang menonjol sehingga bagi kebanyakan pembaca surat kabar akan menyimak pentingnya arti berita yang ditajukkan tadi.

Tujuan ditulisnya editorial adalah mengajak pembaca untuk ikut berpikir dalam masalah (isu/topik) yang sedang hangat terjadi di kehidupan sekitar, serta memberikan pandangan kepada pembaca terhadap isu yang sedang hangat terjadi di kehidupan sekitar, serta memberikan pandangan kepada pembaca terhadap isu yang sedang berkembang.

Manfaat dari membaca teks editorial selain untuk memperoleh informasi, juga untuk merangsang pemikiran dan mampu menggerakkan pembaca untuk bertindak sebagaimana opini yang disampaikan dalam teks editorial tersebut.

Jenis teks editorial yaitu:

1. Interpretatif editorial, yaitu jenis teks yang bertujuan menjelaskan isu dengan menyajikan fakta dan            opini untuk memberikan pengetahuan pembaca.

2. Controversial editorial, yaitu jenis editorial yang bertujuan menyakinkan pembaca pada keinginan          atau menumbuhkan kepercayaan pembaca terhadap suatu isu.

3. Explanatory editorial, yaitu teks editorial yang menyajikan masalah atau suatu masalah dan                    membuka mata masyarakat untuk memperhatikan suatu isu.

Ciri-ciri teks editorial:

1. Tema selalu hangat

2. Bersifat sistematis dan logis

3. Merupakan opini/pendapat yang bersifat argumentatif

4. Menarik untuk dibaca karena penggunaan kalimatnya yang singkat, padat, dan jelas.

CONTOH TUGAS TERSTUKTUR

 

TERSTRUKTUR

KISI – KISI DAN SOAL PRAKTIK BERPIDATO

SMK TAHUN PELAJARAN 2019-2020

 

          I.            ASPEK MENULIS

Standar Kompetensi Kelulusan  :

Peserta didik mampu mengemukakan pesan, gagasan, pendapat, pengalaman, dan perasaannya secara logis, dan sistematis dalam berbagai bentuk dan gaya.

 

Ruang Lingkup Materi :

Kemampuan menulis kerangka pidato dan mengembangkan kerangka pidato sesuai dengan tema.

Indikator :

a.       Siswa mampu menulis kerangka pidato sesuai dengan tema

b.      Siswa mampu mengembangkan kerangka pidato menjadi naskah pidato sesuai                             dengan  tema.

A.      Soal :

1.       Pilihlah tema pidato dibawah ini:

a.       Pentingnya pendidikan karakter di sekolah.

b.      Cara Menanamkan Disiplin Peserta Didik.

c.       Disiplin kunci kesuksesan

d.      Peran serta orang tua terhadap pendidikan anak.

2.       Buatlah kerangka pidato sesuai dengan tema yang kamu pilih!

3.       Kembangkan kerangka pidato yang kamu buat menjadi naskah pidato!

 

B.      Rubrik Penilaian :

No

Aspek

Deskripsi

 

 

 

1

 

2

3

4

 

5

Tanda baca dan ejaan

 

Diksi

Keefektifan kalimat

Kesesuaian isi dengan kerangka

Kelengkapan bagian-bagian pidato

Ketepatan menggunakan tanda baca

Dan ejaan

Ketepatan pemilihan kata

Menggunakan kalimat yang efektif

Kesesuaian isi dengan kerangka pidato

 

Kelengkapan bagian pembuka, isi dan penutup

 

 

 

 

Keterangan:

N =

Skor diperoleh x 100

Skor maksimal

1 = tidak tepat/lengkap/sesuai

2 = kurang tepat/lengkap/sesuai

3 = tepat/lengkap/sesuai

Skor maksimal = 15

        II.            ASPEK BERBICARA

Standar Kompetensi Kelulusan :

Peserta diudik mampu mengemukakan pesan, gagasan, pendapat, pengalaman, dan perasaannya secara logis, dan sistematis dalam berbagai bentuk dan gaya.

 

Ruang Lingkup Materi :

Kemampuan berpidato dengan tema yang dipilih.

Indikator :

Peserta didik dapat berpidato dengan intonasi yang tepat dan artikulasi serta suara yang jelas!

 

Rubrik Penilaian :

No

Aspek

Deskripsi

1

2

3

4

1

 

2

 

3

 

4

 

 

5

Volume suara dan artikulasi

Intonasi

 

Kesesuaian isi dengan tema

Ekspresi

 

 

Kelancaran

Keras lembutnya suara

Pelafalan kata jelas dan tepat

Pengaturan jeda, tinggi rendah nada, cepat lambat.

Isi pidato sesuai dengan tema yang dipilih.

Kesesuaian antara ekspresi wajah, gerak, sikap, dan ucapan.

Kelancaran pengucapan

 

 

 

 

 

Keterangan  :

N =

Skor diperoleh x 100

20

1        = Kurang

2        = sedang

3        = baik

4        = sangat baik

Skor maksimal = 20

NA = Skor diperoleh x 100

 

 

Mengetahui,                                                                                                     Jakarta, 

Kepala Sekolah                                                                                                                Guru Mata Pelajaran