Jadi
tidak setiap derita
jadi luka
tidak setiap sepi
jadi duri
tidak setiap tanda
jadi makna
tidak setiap jawab
jadi sebab
tidak setiap seru
jadi mau
tidak setiap tangan
jadi pegang
tidak setiap kabar
jadi tahu
tidak setiap luka
jadi kaca
memandang Kau
pada wajahku!
Puisi Karya Marhalim Zaini
Sampan Kayu
Akhirnya, senja itu juga jongkok,
yang perlahan menyusun sampan-sampan, menghitungnya sebagai barisan
sunyi
yang lelah, yang rebah, ditangkap diikat di akar-akar di kayu-kayu kaki-kaki
rumah, dan cahaya kikis, sekejap lagi habis
direngguk malam yang mengerang
di badanmu, disarungku;
sangkar segala burung yang bangkit
terbang ke hitam langit,
ke hitam waktu.
Kapan ia lahir, tuan?
Bulan mandul, dan kematian
duduk-duduk memancing ikan
di setiap sudut pantai.
Aku datang dan selalu terkenang
muasal pasir, dan siul sumbang
dari mancung bibirmu yang membuat
cekung pipimu, saat kucium berulang
biji-biji kopi mentah di lidahmu,
saat tak perlu kau sebut lagi
tentang pahitnya kerinduan
saat semua gurat lekat di daun-daun
(puisi: Marhalim Zaini)
Akhirnya, senja itu juga jongkok,
yang perlahan menyusun sampan-sampan, menghitungnya sebagai barisan
sunyi
yang lelah, yang rebah, ditangkap diikat di akar-akar di kayu-kayu kaki-kaki
rumah, dan cahaya kikis, sekejap lagi habis
direngguk malam yang mengerang
di badanmu, disarungku;
sangkar segala burung yang bangkit
terbang ke hitam langit,
ke hitam waktu.
Kapan ia lahir, tuan?
Bulan mandul, dan kematian
duduk-duduk memancing ikan
di setiap sudut pantai.
Aku datang dan selalu terkenang
muasal pasir, dan siul sumbang
dari mancung bibirmu yang membuat
cekung pipimu, saat kucium berulang
biji-biji kopi mentah di lidahmu,
saat tak perlu kau sebut lagi
tentang pahitnya kerinduan
saat semua gurat lekat di daun-daun
(puisi: Marhalim Zaini)
Mengapresiasi Unsur Batin Puisi
2. Unsur Batin
Ada empat unsur batin dalam puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair, (felling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tune), dan amanat (intention).
a. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang diungkapkan penyair dalam puisinya. Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya. Tema itulah yang menjadi keramngka pengembangan sebuah puisi. Jika landasan awalnya tetang ketuhanan, keseluruhan struktur puisi tidak lepas dari ungkapan-ungkapan eksistensi Tuhan. Demikian pula halnya, jika yang dominan adalah dorongan cinta dan kasih sayang ungkapa-ungkapan asmaralah yang akan ditonjolkan dalam puisi itu.
Contoh:
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja saraan sepoi, pada masa purnama
meningkat naik. setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan
melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu
Hatiku terang menerima kasihmu, bagai bintang
memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai bintang
memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap
malam menyirak kelopak
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu
penuhi dadaku dengan cayamu, biar bersinar
mataku sendu biar berbinar gelakku rayu!
Ada empat unsur batin dalam puisi, yakni tema (sense), perasaan penyair, (felling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tune), dan amanat (intention).
a. Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang diungkapkan penyair dalam puisinya. Tema berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam puisinya. Tema itulah yang menjadi keramngka pengembangan sebuah puisi. Jika landasan awalnya tetang ketuhanan, keseluruhan struktur puisi tidak lepas dari ungkapan-ungkapan eksistensi Tuhan. Demikian pula halnya, jika yang dominan adalah dorongan cinta dan kasih sayang ungkapa-ungkapan asmaralah yang akan ditonjolkan dalam puisi itu.
Contoh:
Doa
Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja saraan sepoi, pada masa purnama
meningkat naik. setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan
melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke bawah kursimu
Hatiku terang menerima kasihmu, bagai bintang
memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai bintang
memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap
malam menyirak kelopak
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu
penuhi dadaku dengan cayamu, biar bersinar
mataku sendu biar berbinar gelakku rayu!
Mengapresiasi Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya akan makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima, dan irama yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh peradatan segala unsur bahsa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dari bahasa yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun kaya akan makna. Kata-kata yang digunakan adalah kata-katya konotatif, yang mengandung banyhak penafsiran dan pengertian.
Unsur fisik dan unsur bathin puisi.
1. Unsur Fisik
Unsur fisik puisi meliputi diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritma, serta tata wajah.
a. Diksi (pilihan Kata)
Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata- kata tersebut merupakan hasil pertimbangan, baik makna, susunan bunyinya maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya.
Kedudukan kata-kata dalam puisi sangat penting. Kata-kata ini harus bersifat konotatif sehingga maknanya dapat lebih dari satu. Kata-kata yang dipilih harus bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan. Bunyinya pun harus indah dan memiliki keharmonisan dengan kata-kata lainnya.
b. Pengimajian
Pengimajian dapat didefinisikan sebagai kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasakan, mendengarkan, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair.
Unsur fisik dan unsur bathin puisi.
1. Unsur Fisik
Unsur fisik puisi meliputi diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritma, serta tata wajah.
a. Diksi (pilihan Kata)
Kata-kata yang digunakan dalam puisi merupakan hasil pemilihan yang sangat cermat. Kata- kata tersebut merupakan hasil pertimbangan, baik makna, susunan bunyinya maupun hubungan kata itu dengan kata-kata lain dalam baris dan baitnya.
Kedudukan kata-kata dalam puisi sangat penting. Kata-kata ini harus bersifat konotatif sehingga maknanya dapat lebih dari satu. Kata-kata yang dipilih harus bersifat puitis, yang mempunyai efek keindahan. Bunyinya pun harus indah dan memiliki keharmonisan dengan kata-kata lainnya.
b. Pengimajian
Pengimajian dapat didefinisikan sebagai kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan khayalan atau imajinasi. Dengan daya imajinasi tersebut, pembaca seolah-olah merasakan, mendengarkan, atau melihat sesuatu yang diungkapkan penyair.
INFO PENGAJUAN PENYETARAAN GURU NON PNS
Untuk Bapak/Ibu Guru Non PNS yang ingin mengajukan penyetaraan jabatan (impasing).
Syarat-syarat pengajuan impasing:
- pengantar dari kepala sekolah,
- NUPTK bisa fotokopi kartu NUPTK atau lembar dari Padamu Negeri,
- Biodata dapat diakses dari http://dapodikmen.kemdikbud.go.id
- SK Pengangkatan Guru tetap dari yayasan dilegalisir dinas pendidikan setempat,
- Ijazah minimal S1 dan harus dilegalisasi kampus Akreditasi minimal ,
- SK pembagian tugas mengajar semester terkhir dan dilegalisasi dinas pendidikan setempat,
- Surat keterangan dari kepala sekolah bahwa guru yang bersangkutan memiliki kinerja baik selama 4 semester terakhir,
- SK pengangkatan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kepala lab, kepala perpus, kepala bvengkel, 9jika ada)
- Foto kopi Sertifikat Pendidik
- NRG
u.p Direktur Pembinaan Guru Dikmen
Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud
Untuk mempermudah identifikasi berkas usulan diharapkan menggunakan stopmap
- Jawa Barat : Kuning
- Jawa Tengah dan Timur : Merah
- Sumatera : Hijau
- DKI : Biru
Semoga bermanfaat
Subscribe to:
Posts (Atom)