Mengenal Jenis-jenis Karangan Eksposisi

Menurut Gorys keraf, Karangan eksposisi atau pemaparan adalahsalah satu bentuk tulisan retorika yang berusaha untuk menerangkan dan menguraikan suatu pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan seseorang.
     Berkenaan dengan hal tersebut, eksposisi kerap digunakan dalam tulisan-tulisan ilmiah. Karangan eksposisi berusaha memaparkan sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga para pembaca mendapat pengetahuan yang luas.
Ciri-ciri paragraf eksposisi, antara lain:

  1. erusaha menjelaskan tentang sesuatu
  2. gaya penulisannya bersifat informatif
  3. fakta dipakai sebagai alat kontributif
  4. fakta dipakai sebagai alat konkritasi.
Karangan eksposisi dapat dikembangkan dengan cara analisis. Jenis eksposisi sebagai berikut:
a. Eksposisi analisis ilustrasi
    contoh:
                 Cengkeh, pohon yang tetap hijau, sysygium aromaticum (eugenia carvophullata), asli di         kepulauan Maluku. Kuncup bunganya yang belum terbuka ialah rempah yang penting.                         Disamping penggunaan terpenting sebagai rempah, kuncup bunga yang berbentuk paku, jika             sudah dikeringkan, dipakai di pulau jawa sebagai campuran tembakau, lebih-lebih sesudah tahun      1915, dengan majunya perusahaan rokok kretek di Kudus dan tempat-tempat lain; selain itu,              kadang-kadang sesudah digiling, digunakan untuk mengharumkan kue. Juga menghasilkan                minyak uap yang digunakan dalam obat-obatan dan minyak wangi.

Hubungan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah dan Bahasa Asing

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terpenting diantara beratus-ratus bahasa daerah yang jumlah penuturnya berkisar antara beberapa ratus orang dan tujuh puluh juta orang (bahasa Jawa). Di samping itu, ada sejumlah bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Arab, Cina, Jepang, dan belanda, yang digunakan oleh kalangan masyarakat tertentu.Ketiga golongan bahasa itu masing-masing menjalankan fungsi kemasyarakatan yang khusus.
    Di antara sejumlah fungsi kemasyarakatan yang terpenting dapat disebutkan
1. fungsi bahasa resmi pada taraf negara atau daerah.
2. fungsi bahasa perhubungan luas.
3. fungsi bahasa pendidikan formal.
4. fungsi bahasa kesenian.
5. fungsi bahasa keilmuan dan keteknologian
    Fungsi bahasa resmi pada taraf nasional, misalnya, dijalankan oleh bahasa Indonesia. Hal itu berarti bahwa di dalam segala urusan negara yang resmi, seperti dalam tata usaha, peradilan, dan penyelenggaraan politiknya, dipakai bahasa Indonesia. Di samping itu, dapat dicatat bahwa didalam berbagai upacara adat bahasa daerah juga berfungsi sebagai bahasa resmi. Artinya, bahasa daerah dipakai dimuka umum pada kesempatan seperti itu. Pada pertemuan Internasional yang diselenggarakan di Indonesia, bahasa Asing seperti bahasa Inggris juga diterima sebagai bahasa resmi disamping bahasa Indonesia.
    fungsi bahasa perhubungan luas dalam komunikasi antara daerah dan antar budaya ditunaikan oleh bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa asing. Dalam fungsi itu bahasa Indonesia menjadi alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan, pemerintahan, dan pelaksanaan pembangunan. Bahasa Asing berfungsi sebagai alat perhubungan antar bangsa dan untuk perolehan ilmu dan teknologi modern.

Seni Teater Tradisional Indonesia

Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak (khalayak).  Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya; ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, acrobat dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata social kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya mempunyai unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis.
Teater Tradisional Indonesia
                Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tatacara kehidupan  masyarakat kita.
        Munculnya teater tradisional Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbeda-beda., tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. sumber dan tata-cara dimana teatter tradisional lahir. Berikut ini di sajikan beberapa bentuk teater tradisional yang ada di Indonesia.
1. Wayang Kulit
    Wayang kulit termasuk jenis teater tradisional yang sangat tua, dan dapat ditelusuri asal                        muasalnya.  Dalam menelusuri sejak kapan ada pertunjukan wayang di Jawa, dapat kita temukan        berbagai prasasti pada Zaman Raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Pada masa                    pemerintahan Raja Balitung, telah ada pertunjukan wayang seperti yang terdapat pada prasasti            Balitung dengan tahun 907 Masehi. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah                  dikenal adanya pertunjukan wayang.
2. Wayang Wong (wayang orang)
    Wayang Wong dalam bahasa Indonesia artinya wayang orang, yaitu pertunjukan wayang kulit,            tetapi dimainkan oleh orang. Wayang Wong adalah bentuk teater tradisional Jawa yang berasal            dari Wayang Kulit yang dipertunjukan dalam bentuk berbeda; dimainkan oleh orang lengkap              dengan menyanyi dan menari.
3. Makyong
    Merupakan suatu jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan. Makyong yang paling tua ada di     pulau Matang salah satu pulau di daerah Riau.
4. Randai
    Randai merupakan suatu bentuk teater tradisional yang terdapat di daerah Minangkabau.
5. Mamanda
    Mamanda merupakan teater tradisional daerah Kalimantan.
6. Lenong
    Lenong merupakan teater rakya Betawi.
7. Longser
    Longser merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan dan terdapat di Jawa Barat.
8. Ubrug
    Ubrug merupakan teater tradisional yang terdapat di daerah Banten.
9. Ketoprak
    Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling popular,terutama didaerah Yogyakarta dan daerah       Jawa Tengah.
10. Ludrug
      Ludrug merupakan teater tradisional yang bersifat kerakyatan di daerah Jawa Timur berasal dari         daerah Jombang.
11. Gambauh
      Gambuh merupakan teater tradisional yang paling tua di Bali.
12. Arja

      Arja merupakan jenis teater tradisional yang bersifat kerakyatan terdapat di Bali.

NAFAS DOA KU UNTUKMU CINTA

Pada satu Jiwa,
Ku ingin berteduh dr segala keluh dan  gaduh,
Menegadah segala lelah menggegam hikmah diatas Sajadah.
Sekelumit doa terlafaz merajah menghunus terbangunlah Jiwa-jiwa  resah,

Terpaku jasad yang tandus mengharap siram berlumur basah.
Bercampur pilu menyatu,
Ku sisir padu,
Bagai ilalang padang pasir,kering gersang tak berair.

Ketika malam gelap gulita,
Riuh gundah Anginpun menyapa,
Bahkan tanpa Purnama,
Ku haturkan untaian doa yang ku pungut dari tiap serpihan luka memaut air mata.

Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar

        Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, maka dapat dengan lebih mudah dibuat perbedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar. Jika orang masih membedakan pendapat tentang benar tidaknya suatu bentukbahasa, perbedaan paham itu menandakan tidak atau belum adanya bentuk baku yang mantap. Jika dipandang dari sudut itu, kita mungkin berhadapan dengan bahasa yang semua tatarannya sudah dibakukan; atau yang sebagainnya sudah baku, sedangkan bagian yang lain masih dalam proses pembakuan; ataupun yang semua bagiannya belum atau tidak bakukan. Bahasa Indonesia, agaknya, termasuk golongan yang kedua. Kaidah ejaan dan pembentukan  istilah kita sudah distandarkan; kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan sehari-hari belum mantap.
        Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap telah dapat berbahasa dengan efektif. Bahasanya membuat efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat. Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu beragam baku. Dalam tawar menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjillah bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti:

Contoh 1. Berapakah Ibu menjual bayam ini?
             2. Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Jatinegara dan berapakah                              ongkosnya?
Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemekaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (3) dan (4) berikut lebih tepat.

Contoh 3. Berapa nih, Bu, bayemnya?
             4. Ke Pasar Jatinegara, Bang. Berapa?
      Sebaliknya kita mungkin berbahasa dengan baik, tetapi tidak benar. Frasa seperti ini hari merupakan bahasa yang baik sampai tahun 80-an di kalangan para makelar karcis bioskop, tetapi bentuk itu tidak merupakan bahasa yang benar karena letak kedua kata dalam frasa ini terbalik.
      Karena itu, anjuran agar kita "berbahasa Indonesia dengan baik dan benar" dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan "bahasa Indonesia yang baik dan benar" mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.